PPM Ar-Rahmat

Pejuang OSN Ar-Rahmat: “Perunggu pada Tahun 2025”

Ratusan santri berdiri, menatap empat teladan yang baru tiba di Bumi Ar-Rahmat. Keempat pejuang ini usai berperang di Malang, tepat di salah satu kampus top 20 se-Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka adalah Finalis Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025, Agus Ubaidillah Alhakim, pulang dengan bangga membawa Medali Perunggu Kimia, M. Nur Rhozyqin Rantauan dan Rafif Ibrahim Mahfid, pulang dengan hormat membawa gelar Honorable Mention Fisika dan Astronomi, last but not least ada Azra Fathur Ramadhany, pulang dengan tegap sebagai finalis yang sudah berjuang hingga titik nadir terakhir.

Tak ada kata yang mampu menggambarkan hari ini, Senin 13 Oktober 2025, selain kata bahagia dan bangga. Raut wajah dan gestur tubuh sepakat, bahwa khusus hari ini semua warga Pondok Pesantren Modern Ar-Rahmat Bojonegoro sedang bersuka cita. “Harum medali harus dijaga dari turun temurun, dan hari ini kita berhasil menciumnya kembali.” pungkas Ustaz Zain Nizar Amry, selaku Kepala SMA Plus Ar-Rahmat Bojonegoro. Bunga-bunga dirangkai dan dipersembahkan kepada empat pejuang tersebut, meski tidak mampu mewakili semua rasa bahagia hari ini, setidaknya cukup untuk mengharumkan bahu, leher, dan nama mereka.

Mikrofon dialirkan dan diberikan kepada satu per satu finalis, tangan pertama tentu dari Agus Ubaidillah Alhakim, sebagai satu-satunya santri yang membawa pulang medali. Ia kisahkan semua dari awal, dari dirinya yang suka pelajaran Biologi dan IPS saat SMP, kemudian masih suka pelajaran IPS dan Sejarah saat kelas 10 SMA. Sebentar, bukankah medali di lehernya sekarang itu adalah Medali Perunggu Kimia OSN? Betul, dan ia pertama kali belajar Kimia saat menginjak Kelas 11 SMA. Banting setir dari Biologi, IPS, dan Sejarah, tidak membuat Agus gagal meraih impiannya.

“Kimia itu bukan pelajaran yang hitung-menghitung banget, tapi juga bukan pelajaran yang hafal-menghafal terus, jadinya saya sepertinya tertarik.” Agus dengan polosnya menyampaikan. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa alasan pindah bidang karena melihat adanya potensi belajar lebih lanjut dari pembimbing Kimia. Pembimbing Kimia dari guru ialah Ustadzah Nungky Purwasusanti, dan pembimbing dari santri adalah M. Asyiq Manarul Hidayah, santri yang setahun lalu juga meraih Medali Perunggu Kimia OSN. Agus mengakui jika banyak bimbingan bisa didapat dari Ustazah Nungky, begitupun Mas Asyiq. Agus sangat senang karena sudah banyak diajari oleh Mas Asyiq, meski banyak pertanyaan dari Agus, Mas Asyiq tetap sabar dalam membimbing.

Mikrofon dilempar ke pembicara kedua, yakni Azra Fathur Ramadhany. Cerita Azra hampir mirip dengan Agus, berolah-alih bidang hingga akhirnya memutuskan untuk mendalami Astronomi. Azra bertekad ke depan ia akan memberikan usaha yang lebih baik agar bisa meraih impian tertinggi, yakni mendapatkan Medali OSN. Kita doakan bersama semoga berhasil, aamiin.

Bergulir lagi, kini mikrofon diterima M. Nur Rhozyqin Rantauan. Ia menceritakan bagaimana perjalanan yang diawali dari suka pelajaran Matematika bisa berubah menjadi Fisika. Perubahan hobi ini ia paksa lakukan karena saat lomba di Surabaya, ia harus mengalah memilih belajar mapel Fisika dengan teman setim lomba IPA. “Ternyata belajar Fisika cukup menyenangkan daripada belajar yang lain, setidaknya bagi saya begitu.” kata santri yang hangat disapa Rhozy. Ia tetap berambisi bahwa kegagalan kali ini tetap akan diusahakan untuk berhasil di bidang lain, terutama ujian masuk perguruan tinggi kelak.

Terakhir ada Rafif Ibrahim Mahfid, ia menjelaskan bahwa ada beberapa kesalahan yang bisa dijadikan pengalaman ke depan. Salah satunya adalah manajemen waktu, ia sempat berkisah, bayangkan ada delapan soal teori dengan tiga jam pengerjaan, dan ia menghabiskan satu jam pertama untuk satu soal saja. Selain manajemen waktu, ia juga menekankan bahwa siswa sekolah lain jarang scrolling media sosial dan lebih mengutamakan belajar hingga larut malam. “Ada teman saya dari MAN Insan Cendekia Pasuruan, melek sampe tengah malam itu bukan main game atau scrolling medsos, jadi ya belajar sampe tengah malam dan itu sudah biasa bagi mereka.”

Dari Agus, kita jadi tahu bahwa mempelajari banyak hal (multibidang) tidak menjadikan kita goyah dan tidak fokus terhadap satu hal, namun karakter “konsisten” rajin belajar bisa menjadikan diri meraih hal yang terlihat tidak mungkin sama sekali. Dari Azra, kita belajar bahwa kegagalan adalah awal dari lembaran baru. Dari Rhozy, kita tahu bahwa mengalah tidak berarti kalah, barangkali ia bisa membuka sudut pandang baru dari sisi yang tak pernah kita tengok. Dari Rafif, kita memahami bahwa manajemen waktu dan fokus adalah kunci penting untuk meraih apa yang sedang kita usahakan. (hananto hanif)

 

Bumi Ar-Rahmat

Bojonegoro, 13 Oktober 2025